Galata Tower, Taksim Square dan Istiklal Caddesi adalah tiga lokasi di Istanbul yang tak pernah sepi oleh wisatawan, lokal maupun mancanegara. Pesona dan keunikannya memiliki kekuatan yang mendorong orang untuk menelusurinya baik saat matahari bersinar ramah atau ketika cuaca begitu dingin menggigit.
Galata Tower
Memiliki tinggi 66 meter dengan diameter 16 meter, Galata Tower atau Galata Kulesi dalam bahasa Turki, merupakan landmark kota Istanbul lainnya. Berdiri di distrik Galata Istanbul, menara batu dengan kerucut silinder tertutup di bagian puncaknya ini terletak di bagian utara Golden Horn.

Menara yang awalnya didirikan sebagai menara pengawas pertahanan kota ini digunakan untuk melihat sumber kebakaran kota sejak tahun 1717. Sempat mengalami rusak parah akibat kebakaran pada tahun 1794 dan 1831, pada tahun 1875 badai membuat atap kerucut di bagian atas bangunan hancur. Menara tanpa kerucut ini bertahan hingga sisa periode Ottoman, dan baru pada tahun 1965-1967, ketika pemerintahan telah menjadi Republik Turki, topi kerucut yang asli dikembalikan ke tempat semula. Dan selama masa restorasi tersebut, interior menara yang sebelumnya dari kayu digantikan oleh strutur beton dan selanjutnya dibuka untuk umum.
Jalan menuju Galata Tower tak begitu lebar, hanya dapat dilewati oleh satu mobil berukuran sedang. Karenanya rombongan kami yang menggunakan bus terpaksa turun di ujung jalan dan melanjutkan dengan berjalan kaki. Menyusuri jalan sempit menuju Galata Tower di tengah udara dingin adalah sebuah pengalaman menyenangkan. Berjalan diatas paving block dengan toko-toko berarsitektur unik membuat kami begitu menikmati atmosfer yang tercipta dan tak ingin segera sampai ke tujuan.

Taksim Square dan Istiklal Caddesi
Taksim Square merupakan area lapang tempat digelarnya beragam protes dan demonstrasi damai pada pemerintah Turki. Tak heran bila tempat ini selalu dipenuhi pengunjung. Tepat di depan area ini terdapat jalan yang bernama Istiklal Caddesi atau Jalan Kemerdekaan, sebuah jalan yang seperti tak pernah sepi, mempertemukan warga asli Turki dengan turis dari mancanegara. Saat Usman, tour guide kami membawa dan membiarkan kami mengeksplor area ini, saya memulainya dengan tidak terlalu antusias karena rasa letih yang melanda setelah perjalanan seharian. Namun baru melangkah beberapa meter, mata saya mulai menangkap objek yang menarik, dan rasa letih pun perlahan mulai menguap. Beragam toko dan restoran besar dan kecil berjajar di sepanjang sisi kanan dan kiri jalan ini. Menariknya, setiap bangunan yang berjajar di sepanjang Istiklal Caddesi ini memiliki arsitektur yang begitu klasik, sehingga mata saya pun menari-nari gembira melihat keindahan di sepanjang sisi kanan dan kiri jalan.

Di antara deretan bangunan indah di sepanjang jalan ini, kami menemukan gereja dengan arsitektur cantik bak rumah boneka, yang dimasuki bukan hanya oleh mereka yang beragama Nasrani, tetapi juga oleh mereka yang mengenakan hijab. Kami pun melangkahkan kami memasuki dan mengagumi interior gereja bernama Saint Anthony Catholic Church tersebut dari dalam. Tanpa terasa, kami berjalan jauh hingga hampir ke ujung Istiklal Caddesi. Keindahan toko, café, butik, galeri dan lainnya yang ada di sepanjang jalan berukuran 1,4km serta lalu lalang orang-orang yang begitu unik memesona kami tanpa menyadari sepasang kaki yang menjerit letih. Di musim dingin ini, setiap orang yang kami temui tampil dengan busana musim dingin yang bukan hanya menghangatkan tetapi juga stylish.

Tentu saja ini merupakan pemandangan yang memanjakan mata, selain juga aktivitas lain seperti para seniman jalanan, juga para penjual ris yang ada di sepanjang jalan. Satu lagi yang juga sangat menarik adalah tram antik berwarna merah yang hanya beroperasi di sepanjang Istiklal Caddesi. Berhenti di ujung Istiklal Caddesi, dengan membayar 4 Turkish Lira kita dapat menaiki tram tersebut bila ingin mengistrirahatkan kaki sambil menikmati keindahan. Namun kami memilih untuk kembali berjalan kaki agar dapat mampir dan memasuki toko-toko yang sebelumnya hanya kami lewati. Satu hal yang melintas di benak saya, kami yang berjalan di sore hari di musim dingin saja merasa letih, bagaimana dengan mereka yang berkunjung di musim panas? Sepertinya pesona Istiklal Caddesi memang begitu kuat hingga mampu memaksa orang untuk kembali dan kembali menelusurinya tanpa peduli musim.
Foto : Alexander Thian dan Setia Bekti